Perubahan tentang perdebatan keindahan perempuan terjadi seiring dengan perkembangan jaman yang signifikan. Namun disetiap perubahan selalu saja ada benang merah yang tetap dijadikan dasar dalam penilaian sebuah kecantikan. Konsep kecantikan inipun tertuang dalam kitab kitab lama. Mulai jaman Singosari, Jaman Mataram, jaman kemerdekaan, hingga pada era globalisasi sekarang ini.
Sebut saja kitab Paraton yang mengisahkan tentang kerajaan Singosari. Dalam kitab tersebut mencatat keindahan tubuh perempuan yang bernama Ken Dedes dan Ken Umang. Tubuh Ken Dedes sangatlah menawan. Ketika diterjemahkan menjadi sebuah patung, karakter Ken Dedes memiliki tubuh agak sintal, agak gemuk dengan buah dada yang besar. Kulit ken Dedes memiliki citra kuning langsat, bersih dan rambut hitam memanjang. Hal ini erat kaitannya dengan pola perawatan tubuh. Untuk wajah, Ken Dedes memiliki bentu yang agak bulat Berbeda dengan ken Umang yang memiliki warna kulit agak gelap, tubuh sintal dengan tipe wajah bulat.
Pada waktu itu, konsep kecantikan dan keseksian wanita adalah simbol kesuburan yang tercitrakan melalui kondisi tubuh yang sintal dan agak gendut. Wanita yang memiliki tubuh kurus merupakan wanita yang mengalami berbagai tekanan atau istilahnya wanita “gersang”.
Dalam kitab lain, Serat Chandrarini yang ditulis oleh Pujangga R.Ng.Rangga
Warsita, yang terkumpul dalam serat Centinii, menyebutkan bahwa seorang wanita haruslah mampu merawat badan dengan dengan cermat. Seperti ke lima istri Arjuna dalam merawat tubuh. Dalam teks tersebut, keindahan tubuh perempuan dicitrakan melalui penggambaran selir Arjuna. Wara Sembadra memiliki tubuh yang menenangkan hati. Dia sosok wanita yang penuh senyum, bermata sipit indah, bahunya bidang, badannya sedang, kulitnya kuning bercahaya karena terawatt. Sedangkan Dewi Manuhara memiliki karakter sangat cantik dengan muka bak lukisan (memiliki keseimbangan yang sempurna, mata njait (sipit manis), dan tubuh ramping. Sedangkan Dewi Wara Srikandi memiliki karakter tubuh seperti emas yang berkilau, parasnya seperti bulan (agak bulat), lirikan matanya galak galak manis, badannya sintal semampai, dan gerakannya luwes memikat.
Disamping dua kitab tersebut, Pararato dan Centhini, banyak pula kitab yang membahas tentang sikap polah perempuan yang menawan. Sebut saja Serat Piwulang Putri, Serat Jayengsastra, Darmaduhita, Darmarini, Marayagna, Wulang Wanita.
Pada masa kolonial keindahan tubuh perempuan Indonesia mulai mengalami sedikit peregeseran. Namun tidak lantas merubah konsep kecantikan kaum pribumi. Banyak pula kau colonial yang jatuh hati pada keindahan tubuh wanita Indonesia. “Exotic” istilah mereka.
Dengan pengaruh bangsa Belanda, keindahan tubuh perempuan mulai sedikit bergeser pada wacana keindahan tubuh wanita ‘Indo’ (Istilah untuk menjelaskan wanita campuran pribumi dan barat). Hasilnya Tinggi semampai dan berambut pirang menjadi salah satu akulturasi yang indah pada masa itu. Ditambah lagi dengan sejarah masuknya bangsa bangsa asing ke Indonesia, seperti Gujarat, Campa, dan bangsa Eropa lainnya.
Pada era kemerdekaan, konsep keindahan tubuh perempuan mulai berkembang. Masuknya pengaruh luar yang semakin santer membawa dampak pada pemilihann bentuk tubuh ideal bagi wanita. Perpaduan Indonesia dengan asing menjadi salah satu alternatif dalam memandang keindahan tubuh perempuan.
Semakin terbukanya hubungan diplomasi antara Indonesia dengan negara asing dan dibukanya era pasar bebas berimbas pula pada konsep keindahan tubuh wanita Indonesia. Terlebih dengan industri kapitalis yang memaksa tiap organ social, ekonomi, dan budaya bergerak. Lihat saja media cetak maupun elektronik yang mengekspos keindahan tubuh wanita. Disinlah media berperan inti dalam menciptakan ‘standarisasi bagi wanita cantik’. Sebuah timbal balik yang mematarantai.
Lalu dampaknya? Wanita Indo dengan kulit putih bersinar, rambut ikal pirang, hidung mancung, mata biru, Tinggi minimal 165, serta berbicara bahasa Indonesia yang kebarat baratan menjadi icon baru bagi image wanita cantik di Indonesia.